Mungkin sebelumnya
kamu harus bisa membedakan dahulu antara belajar ilmu filsafat dan berfilsafat.
Aktivitas berfilsafat sebenarnya secara alamiah di mulai
sejak usia sangat dini, usia yang penuh keingintahuan yang tak terbendung. Adik
kamu yang berusia 6 tahun bisa saja bertanya seperti ini, ”Mak, ko adik tadi
bermimpi tapi kaya beneran. Bedanya apa sih mimpi dengan beneran itu, Mak?”
Pertanyaan dengan Bahasa sederhana anak-anak tersebut,
sebenarnya adalah keingintahuan “membedakan
ralitas (kenyataan) dan mimpi” yang menjadi persoalan besar bagi Rene Descartes (1596-1650), bapak
filsafat modern kita.
Berfilsafat, karena itu, merupakan perjalanan mengenang
kembali sebuah aktivitas yang pernah setiap orang nikmati pada masa
kanak-kanak. Inilah titik awal yang sederhana. Tetapi sangat penting bagi orang
yang dewasa untuk menikmati (kembali) filsafat yang umumnya terkesan rumit dan
tidak membumi.
Jadi, selama ini kita telah berlaku tidak adil kepada
anak-anak. Orang tua kita atau kita sendiri menganggap anal-anak sebagai sosok
yang perlu selalu di arahkan. Kita menganggap mereka tidak tahu apa-apa.
Ucapan-ucapannya sekedar keluh kesah, celoteh tak berujung pangkal dan kenakalan
tak bermakna. Paling jauh, anak-anak hanya di pandang memiliki potensi yang
perlu di kembangkan. Para pendidik dan orang tua merasa selalu paling tahu dan
paling benar dalam segala hal.
Menurut Matthews, guru
besar filsafat Massachusetts University, sikap kita yang seperti itu kepada
anak-anak akan menjadikan anak-anak itu sebagai makhluk yang sekedar memendam
potensi saja. Sikap seperti itu berarti menafikan sifat dasar anak-anak. Kita
telah membuang kesempatan kepada anak-anak untuk berbagi pemikiran. Padahal,
walaupun kadang tampak konyol, tidak jarang muncul pernyataan dan pertanyaan
yang lebih segar, berdaya cipta dan mendasar, jenis ekspresi filosofis yang
mengagumkan. Memerhatikannya dengan serius akan menguntungkan kita dan mereka.
Jika mau jujur, tidak jarang kita di buat repot oleh
pertanyaan anak-anak yang selalu ingin tahu. Karena pertanyaan mereka memang
sangat filosofis. Hanya karena kita terlalu meremehkan mereka, bahkan mungkin
karena kesembongan orang tua, keingintahuan anak-anak yang hakikatnya merupakan
aktivitas berfilsafat terabaikan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar