Selasa, 27 Desember 2016

ANAK-ANAK BISA BELAJAR FILSAFAT





Sejak Usia Kanak-kanak kita Sudah Berfilsafat
            Mungkin sebelumnya kamu harus bisa membedakan dahulu antara belajar ilmu filsafat dan berfilsafat.
            Aktivitas berfilsafat sebenarnya secara alamiah di mulai sejak usia sangat dini, usia yang penuh keingintahuan yang tak terbendung. Adik kamu yang berusia 6 tahun bisa saja bertanya seperti ini, ”Mak, ko adik tadi bermimpi tapi kaya beneran. Bedanya apa sih mimpi dengan beneran itu, Mak?”
            Pertanyaan dengan Bahasa sederhana anak-anak tersebut, sebenarnya adalah keingintahuan “membedakan ralitas (kenyataan) dan mimpi” yang menjadi persoalan besar bagi Rene Descartes (1596-1650), bapak filsafat modern kita.
            Berfilsafat, karena itu, merupakan perjalanan mengenang kembali sebuah aktivitas yang pernah setiap orang nikmati pada masa kanak-kanak. Inilah titik awal yang sederhana. Tetapi sangat penting bagi orang yang dewasa untuk menikmati (kembali) filsafat yang umumnya terkesan rumit dan tidak membumi.
            Jadi, selama ini kita telah berlaku tidak adil kepada anak-anak. Orang tua kita atau kita sendiri menganggap anal-anak sebagai sosok yang perlu selalu di arahkan. Kita menganggap mereka tidak tahu apa-apa. Ucapan-ucapannya sekedar keluh kesah, celoteh tak berujung pangkal dan kenakalan tak bermakna. Paling jauh, anak-anak hanya di pandang memiliki potensi yang perlu di kembangkan. Para pendidik dan orang tua merasa selalu paling tahu dan paling benar dalam segala hal.
            Menurut Matthews, guru besar filsafat Massachusetts University, sikap kita yang seperti itu kepada anak-anak akan menjadikan anak-anak itu sebagai makhluk yang sekedar memendam potensi saja. Sikap seperti itu berarti menafikan sifat dasar anak-anak. Kita telah membuang kesempatan kepada anak-anak untuk berbagi pemikiran. Padahal, walaupun kadang tampak konyol, tidak jarang muncul pernyataan dan pertanyaan yang lebih segar, berdaya cipta dan mendasar, jenis ekspresi filosofis yang mengagumkan. Memerhatikannya dengan serius akan menguntungkan kita dan mereka.
            Jika mau jujur, tidak jarang kita di buat repot oleh pertanyaan anak-anak yang selalu ingin tahu. Karena pertanyaan mereka memang sangat filosofis. Hanya karena kita terlalu meremehkan mereka, bahkan mungkin karena kesembongan orang tua, keingintahuan anak-anak yang hakikatnya merupakan aktivitas berfilsafat terabaikan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar