Cacing itu
tak akan pernah sanggup menjangkau apa yang ia inginkan. Jelas ia ingin bisa
terbang seperti burung itu sehingga tampaklah pesona keanggunannya. Tapi
sepertinya ia takut ketinggian.
Ia juga
terkadang ingin seperti semut yang bisa merayap ke atas pucuk pepohonan. Tapi
sepertinya ia takut terpeleset. Ia juga terkadang ingin seperti kambing yang
bisa menyantap hidangan segar rerumputan hijau. Tapi, lagi lagi ia takut. Ia
takut melukai apapun yang ia sentuh. Keinginan dan obsesi yang mengisi ruang
batinnya, hanya bualan omong kosong.
Sejatinya,
cacing it tak lebih dari batang kayu yang menggeliat. Lalu untuk apa ia
bertahan sekuat tenaga untuk merengkuh sosok yang ia inginkan. Toh.. taka da
satu pu makhluk di muka bumi yang mengerti dengan upayanya itu. Cacing itu
hanya ingin sendiri. Tak perlu ada simpati atau perhatian apapunyang
seolah-olah ingin memberikan kebahagiaan untuknya.
Dalam
memahami kehidupanna, cacing itu hanya bisa meyakini satu hal, bahwa ia cukup
dengan dirinya. Jika ia ingin merasa beda, ia cukup melepaskan daya
imajinasinya seolah-olah ia berada diatas peralatan jagad raya, sehingga ia
bisa melepas kepenatannya dan merasa sangan bebas, menikmati gugusan
bintang-bintang dengan leluasa. Tapi kadang juga, bahkan seringkali cacing
hanya mampu menyadari keberadaanya, terhimpit dalam lubang sempit didalam tanah
yang bau dan gelap.
Ia cukup
melakukan kebiasaannya, bergumal dengan lumpur, dan menggemburkan tanah dimana
ia ada. Mungkin, itu bisa memberi manfaat bagi pihak lain.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar