Jumat, 30 Desember 2016

Aspek Aksiologi dari Sila-sila Pancasila

 
Aksiologi menurut Runes berasal dari istilah Yunani, yaitu axios yang berarti nilai, manfaat, pikiran, atau ilmu/ teori. Dalam pengertian yang modern, aksiologi disamakan dengan teori nilai, yakni sesuatu yang diinginkan, disukai, atau yang baik, bidang yang menyelidiki hakikat nilai, kriteria, dan kedudukan metafisika suatu nilai.
Menurut Brameld, aksiologi dapat disimpulkan sebagai suatu cabang filsafat yang menyelidiki:
a. tingkah laku moral yang berwujud etika,
b. ekspresi etika yang berwujud estetika atau seni dan keindahan,
c. sosio-politik yang berwujud ideologi.
Bidang aksiologi ialah cabang filsafat yang menyelidiki makna nilai, sumber nilai, jenis, dan tingkatan nilai, serta hakikat nilai. Sebagaimana dihayati manusia, kehidupan manusia selalu berada dan dipengaruhi nilai seperti nilai alamiah dan jasmaniah (tanah subur, udara bersih, air bersih, cahaya, dan panas matahari, tumbuh-tumbuhan, dan hewan) demi kehidupan. Kemudian ada pula nilai psikologis, seperti berpikir, rasa, karsa, cinta, estetika, etika, logika, dan cita-cita. Bahkan ada pula nilai ketuhanan dan agama.
Kehidupan manusia sebagai makhluk subyek budaya, pencipta dan penegak nilai, berarti manusia secara sadar mencari memilih dan melaksanakan (menikmati) nilai. Jadi nilai merupakan fungsi rohani jasmani manusia. Dengan demikian, aksiologi adalah cabang fisafat yang menyelidiki makna n;Iai, sumber nilai, jenis nilai, tingkatan nilai dan hakikat nilal, termasuk estetika, etika, ketuhanan dan agama.
Berdasarkan uraian tersebut maka dapat di kemukakan pula bahwa yang mengandung nilai itu bukan hanya yang bersifat material saja tetapi juga sesuatu yang bersifat nonmaterial atau rohaniah. Nilai-nilai material relatif mudah diukur yaitu dengan menggunakan indra maupun alat pengukur lainnya, sedangkan nilai rohaniah alat ukurnya adalah hati nurani manusia yang dibantu indra manusia yaitu cipta, rasa, karsa serta keyakinan manusia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar