Aksiologi menurut Runes berasal dari istilah Yunani,
yaitu axios yang berarti nilai, manfaat, pikiran, atau ilmu/ teori. Dalam
pengertian yang modern, aksiologi disamakan dengan teori nilai, yakni sesuatu
yang diinginkan, disukai, atau yang baik, bidang yang menyelidiki hakikat
nilai, kriteria, dan kedudukan metafisika suatu nilai.
Menurut Brameld, aksiologi dapat disimpulkan sebagai
suatu cabang filsafat yang menyelidiki:
a. tingkah
laku moral yang berwujud etika,
b. ekspresi
etika yang berwujud estetika atau seni dan keindahan,
c.
sosio-politik yang berwujud ideologi.
Bidang aksiologi ialah cabang filsafat yang
menyelidiki makna nilai, sumber nilai, jenis, dan tingkatan nilai, serta
hakikat nilai. Sebagaimana dihayati manusia, kehidupan manusia selalu berada
dan dipengaruhi nilai seperti nilai alamiah dan jasmaniah (tanah subur, udara
bersih, air bersih, cahaya, dan panas matahari, tumbuh-tumbuhan, dan hewan)
demi kehidupan. Kemudian ada pula nilai psikologis, seperti berpikir, rasa,
karsa, cinta, estetika, etika, logika, dan cita-cita. Bahkan ada pula nilai
ketuhanan dan agama.
Kehidupan
manusia sebagai makhluk subyek budaya, pencipta dan penegak nilai, berarti
manusia secara sadar mencari memilih dan melaksanakan (menikmati) nilai. Jadi
nilai merupakan fungsi rohani jasmani manusia. Dengan demikian, aksiologi
adalah cabang fisafat yang menyelidiki makna n;Iai, sumber nilai, jenis nilai,
tingkatan nilai dan hakikat nilal, termasuk estetika, etika, ketuhanan dan agama.
Berdasarkan
uraian tersebut maka dapat di kemukakan pula bahwa yang mengandung nilai itu
bukan hanya yang bersifat material saja tetapi juga sesuatu yang bersifat
nonmaterial atau rohaniah. Nilai-nilai material relatif mudah diukur yaitu
dengan menggunakan indra maupun alat pengukur lainnya, sedangkan nilai rohaniah
alat ukurnya adalah hati nurani manusia yang dibantu indra manusia yaitu cipta,
rasa, karsa serta keyakinan manusia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar