Jumat, 30 Desember 2016

Nasihat-nasihat dari Seorang Wanita Sukses




“Wahai Tuhanku, padamu kupanjatkan sebuah pujian yang hanya pantas untuk-Mu Wahai Dzat tempat bergantung seluruh makhluk Milik-Mu lah segala pujian”

Dengan tersenyum haru meneteskan air mata, ummu Mu’ashiroh menasehati puterinya sebagaimana berikut:
          “Wahai puteriku, engkau akan menghadapi sebuah kehidupan baru. Yaitu, sebuah kehidupan yang tidak ada tempat bagi bapakmu, ibumu, dan saudara-saudarimu untuk mencampuri urusanmu. Dalam kehidupan barumu itu emang akan menjadi teman setia bagi suamimu. Suamimu tidak akan rela ada orang lain yang ikut campur dalam urusanmu dengan suamimu, sedekat apa pun hubungan darahnya denganmu. Maka, jadilah engkau istri dan ibu baginya. Buatlah dia merasa bahwa engkau segala-galanya dalam hidup dan dunianya. Ingatlah, seorang suami adalah ‘bocah besar’ yang cukup bahagia hanya dengan sedikit ungkapan kemanjaanmu padanya. Janganlah engkau membuatnya merasa bila pernikahannya denganmu merupakan penyebab terpisahnya dirimu dari keluarga dan orangtuamu. Perasaan seperti ini juga di rasakan olehnya. Dia telah meninggalkan rumah kedua orangtuanya dan keluarganya demi kamu. Akan tetapi, perbedaan antara kamu dan dia adalah perbedaan antara laki-laki dan wanita. Seorang wanita selalu merindukan keluarga dan rumah di mana dia di lahirkan, tumbuh, dan belajar di dalamnya. Tetapi dia harus membiasakan dirinya untuk hidup dalam suasana baru. Dia harus menyesuaikan diri dengan seorang laki-laki yang telah menjadi suami, pelindung, dan ayah bagi anak-anaknya. Inilah duniamu yang baru!”
          “Wahai puteriku, itulah kehidupan yang akan engkau hadapi dan bahtera keluarga yang akan kalian bangun berdua. Aku tidak memaksamu untuk melupakan ibu, ayah, dan saudaramu, karena mereka tidak akan melupakanmu, wahai puteri kesayanganku. Lagi pula, bagaimana mungkin seorang ibu melupakan buah hatinya? Namun, aku hanya meminta kepadamu: cintailah suamimu dan hiduplah dengan bahagia bersamanya.”
          Dari kisah di atas, kita dapat belajar dan mempersiapkan diri untuk menghadapi dunia yang baru. Dan menjadi istri yang bik untuk suami. Belajar untuk menjadi wanita yang mendiri, karna ada kalanya kedewasaan tidak memandang umur. Maka dengan umur yang masih tersisa ini lebih baik kita habiskan untuk terus belajar memantaskan diri dan mencari perbekalan untuk menyambut dunia baru yang akan datang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar